Showing posts with label Guyonan. Show all posts
Showing posts with label Guyonan. Show all posts

Monday, September 5, 2016

Keputusanmu Telah Ternodai Uang

Keputusanmu Telah Ternodai Uang , Berbicara masalah keadilan di jaman sekarang bukanlah menjadi sesuatu perkara yang mudah, pasalnya dijaman serba "Uang" ini apapun semua urusan duniawi akan semakin menjadi lancar asalkan pelicin yang dikeluarkannya sesuai dengan perkara. Telah banyak kasus keadilan di negeri ini yang sudah termanipulasi oleh keberadaan uang, dimana pihak yang benar akan menjadi salah, dimana kasus ini pun memang sangat erat kaitannya dengan sebuah guyonan klasik " Dimana yang Berjuang kalah dengan yang Ber-uang". Apakah anda tidak setuju dengan argumen yang saya keluarkan, jika kurang yakin coba anda lihat sendiri keadaan hukum di indonesia sekarang, perkara apapun akan terasa sangat mudah dibereskan jika uang turut ikut campur dalam masalah ini, dimana seseorang yang telah terbukti denga kuat mempunyai kesalahan bisa terbebas dari jerat hukum yang berlaku,- Jika anda marah dengan isi artikel ini, mungkinkan anda salah satunya dari orang - orang tersebut ? hmmmm hanya anda yang tahu.

Sekarang coba kita berfikir secara rasional saja, bagaimana orang yang mempunyai kedudukan tidak berbuat sewenang - wenang akan masalah hukum, jika hukum pun sudah tidak mempan diterapkan sebuah kejujuran dan keadilan, namun justru disinilah "Uang" yang akan berjaya dan tentunya orang - orang yang mempunyai uanglah yang akan terselamatkan dari jerat hukum di negeri ini, Misal seorang koruptor yang tertangkap pihak berwajib pun, pada kenyataannya memang diperlakukan secara spesial, meskipun "judulnya" menjadi seorang tahanan, namun orang tersebut seakan menjadi raja yang bisa memesan dan mempergunakan fasilitas pribadinya secara illegal dan bisa mendapatkan sebuah Remisi yang cukup aneh, coba anda fikirkan kalau bukan karena uang, terus karena apa lagi ? 
Hmmmm, sesuatu yang sulit dicerna oleh pemikiran awam, toh namun dengan melihat kenyataannya hukum dinegara kita ini, masih tergolong suatu hukum yang hanya tertulis saja tanpa adanya suatu perlakuan yang benar - benar nyata dan sesuai dengan peraturan yang telah dibuat tersebut

Keputusanmu Telah Ternodai Uang

Memang sangat sulit sekali menyaksikan dan menjalani realita kehidupan di jaman sekarang, semua telah diperbudak dengan kemewahan duniawi, hingga suatu hari pernah aku alami sendiri tentang kebusukan seorang pengadil yang telah mengadili diriku tanpa  terbukti jika aku memang telah melakukan sebuah kesalahan, namun yang lebih menjadi sorotan mata publiknya adalah dimana pada saat itu posisiku memang tidak berada dalam jalur yang salah, namun dengan tegasnya seorang pengadil yang sudah ternodai dengan uang, dengan gaya dan sejuta persepsinya dia telah berhasil membuat sebuah keputusan yang sangat keliru. Cerita ini memang sangat menarik karena berkaitan dengan dirinya (pengadil) dan sebuah opini yang mempunyai jumlah ratusan, diketukkan olehnya sebuah palu yang menentukan keberadaanku dalam sebuah posisi yang semestinya tidak aku dapatkan, dengan nafsu dan egonya ia menghakimiku dengan sewenang - wenangnya, yang sebelumnya ia tak pernah tahu siapakah diriku sebenarnya, terlalu banyak alasan yang membuatku untuk terus melangkah, tak berlu banyak melemparkan suatu pertanyaan, namun kelak nanti kita lihat sejarahnya yang memang menjelaskan bahwa hidup ini memang berawal dari sebuah ilusi dan mimpi yang telah terekam dalam suatu ruang dimensi yang tentunya belum pernah di lalui, diriku yang memang tidak sempurna terkadang menemui sebuah jalan buntu, seperti apa yang saya rasakan saat ini, lalu didalam perkara ini apalah yang menjadi hak mu sehingga bisa memponis diriku dengan seenaknya.

Jika dilihat dari sisi lainnya, memang aku tidak mempunyai daya untuk mencegah Cipta Sang Kuasa yang telah menggariskan jalan cerita hidupku, tiada mampu untuk kita dalam mengetahu siapa yang salah dan siapa yang benar. serta mana yang terbaik, terbusuk dan terindah, semudah itukah lidah mereka bisa bersilat dengan lincah sehingga mampu menenggelamkan hak seseorang yang berada didalam jalur kejujuran dan kebenaran, dengan sebuah keputusannya yang mana keputusan tersebut telah dia susun sedemikian rupa yang menyangkut sebuah argumen, dan taksiran. Didalam cerita kehidupan ini memang sudah tercipta berbagai rupa manusia dan cara mereka untuk mempertahankan kehidupannya pun tentunya sangat berbeda dan beragam, namun yang jadi pertanyaannya apakah semudah ini orang - orang yang berkuasa bisa memanipulasi orde baru ini

Tidaklah ada daya lebih bagiku, untuk bisa menilai langsung mana yang benar dan mana yang salah namun segala sesuatunya memang diperlukan sebuah pembuktian dan penjelasan, dan aku pun tidak bisa langsung menyimpulkan jika aku lah yang berada di posisi yang benar. tentu saja semuanya harus sudah melewati fase - fase hukum yang hambar, hingga pada akhirnya diriku lah yang menjadi tersangka, akibat kebodohan yang sudah merajalela yang mengelilingi kehidupan mereka yang telah dibutakan dengan uang

Thursday, September 1, 2016

Pejabatku Bangsat, Pejabatku Penghianat Rakyat

Pejabatku Bangsat, Pejabatku Penghianat Rakyat , Nyocol Mangap , Nyocol Mendem, Nyocol Lirak Lirik, Nyalip Masuk Saku, seperti hewan najis yang lagi di tunggu sebuah hantaman, mungkin hanya kata tersebut yang pantas disematkan untuk seorang Koruptor Keji. Kelakuan manusia sekarang yang sudah mempunyai jabatan yang cukup tinggi merasa banyak kuasa, merasa dirinya paling jumawa, merasa bahwa tahtanya berada di level paling atas, segala apapun yang akan dilakukannya tak perlu menyakan sesuatunya lagi, asalkan dia suka, semuanya harus bisa dia miliki dan harus dia rasakan, karena katanya orang seperti beliau tak perlu bertanya apa - apa lagi jika ingin bertindak sesuatu, Bagaimana dia bisa takut dengan apa yang telah dilakukannya, jika gelimpahan uang masih menyelimuti kehidupannya, jaman sekarang apa - apa bisa dibeli dengan uang, baik harga diri ataupun yang lainnya.

Segala bentuk apapun dia makan , tidak ada yang berani melarang ataupun memerintahnya, semuanya pada takut akan kekuasaannya, segala macam apapun dia ambil tidak ada yang mampu mencegal yang ada mereka hanya menggigil ketakutan, takut akan pemecatan yang akan diterimanya, maka dengan ini mereka yang menyaksikan pun hanya bisa terdiam, Sekarang kita lari pada kehidupan rakyat kecil yang hanya mengenal sekepal nasi, yang itu juga bisa ditemukan antara jarak jam dan hari yang cukup jauh dan hanya berLauk kan kacang buncis, para koruptor tertawa dengan kelimpahan hartanya, yang semakin hari semakin menumpuk kekayaannya, namun mempunyai sifat yang kurang baik dan tentunya kikir, segala sesuatunya menginginkan hal yang sangat besar, Kebun, Gunung, Kali Laut Sawah bahkan darah orang lainpun bisa dia makan.

Pejabatku Bangsat, Pejabatku Penghianat Rakyat

Mungkin yang terlintas di fikiran para pejabatku, selagi masih mempunyai kesempatan, selagi masih berkuasa dan mempunyai jabatan tinggi dia bisa berbuat semaunya, tak peduli dengan apa yang telah diperbuatnya yang mana perbuatannya tersebut sudah membuat rakyat kecil semakin menjadi sengsara. Disisi lain rakyat kecil yang miskin , meskipun menjalani hidup dalam kesengsaraan mereka masih bisa berfikir jernih untuk melakukan sesuatu hal yang berbau korupsi atau mencolong hak orang lain, yang kaya memang mempunyai segalanya, cuma hasil dari mencuri uang negara yang tak mempunyai rasa malu dengan gagahnya mereka bisa hadir setiap hari bahkan setiap saat di media online, yang kecil melarat, yang kecil menjerit masih banyak yang mau sholat, masih takut untuk berbuat maksiat, namun yang gede seperti konglomerat sudah banyak yang menjadi b*angsat, imannya rapuh moral pun semakin menjadi bejad

Gerah dengan segala krisis moneter, rupiah pun menjadi teler dengan keadaan dollar, yang kecil semakin menjerit seperti ikan mujair yang kekringan, disana yang mempunyai banyak uang di bank, dengan mudahnya mempangun gudang, banyak sekali oknum nakal didalamnya, dengan senangnya  dan dengan asyiknya mereka berlomba - lomba untuk menimbun barang.
Sembako, mana Sembako. . ! Pada kemana sembako ini, sembako makin tak jelas arah jalannya yang mungkin nyasar ke suatu gudang penimbunan, orang kecil diibaratkan seekor semut, yang bentar - bentar keinjak, ya sudah yang sabar, yang ikhlas jangan sampai mau menggigit, yang lebih penting semakin dekatlah kita pada yang ilahi, kita harus ingat jika kehidupan itu memang berputar, siapa tahun besok atau lusa kita bisa berada diatas, tapi yang paling utama kita harus ingat, jika kita sudah mencapai puncaknya, jangan seperti beliau - beliau yang kehilangan akal fikiran

Lah, cukup sekian saja dari saya, jika saya memang berbicara apa adanya, ya saya minta maaf karena saya tidak  pernah sekolah sampai jenjang tinggi, itu juga bukan karena saya tidak mau sekolah, tapi kan sekolah sekarang itu apa - apa harus pake pulus bung. Pake duit bray. . .  pake duit bukan pakai daun, makanya dijaman modern ini banyak yang me nomor duakan masalah otak dan pengetahuannya, soalnya untuk masalah nilai ataupun prestasi bisa diatur dengan mengalirnya dana. itu juga menurut berita yang tersebar aja, saya hanya sebatas meneruskan.
Jika memang kalau isu itu benar adanya, hmmm pantas saja sekarang banyak orang yang mempunyai gelar sarjana, namun hanya sebatas nama saja, tapi otaknya...... haddeuuhhhh ( ini fakta dan realita loh bukan hanya isu ) maaf.!!!

Namun terlepas dari itu semua, biarlah mereka berjalan dijalannya sendiri, sing penting kita atur dan perbaiki diri kita terlebih dahulu lah bray, toh masih banyak banget hal - hal yang harus kita perbaiki di diri kita juga, namun ini hanya sekedar goyonan saja, yang semata - mata mengingatkan saja orang yang bersangkutan. dan maaf ni jangan sampai sanpean tersinggung ya dengan omongan saya, kalo sampean tersinggung berarti bener dong kalo anda itu . . . . . !

=============================

ENGLISH VERSION

MY OFFICIAL Bastard, MY OFFICIAL traitors People

My Official Bastard, My Official traitors People , Nyocol Mangap, Nyocol Mendem, Nyocol Lirak Lyrics, Nyalip Sign Saku, such as unclean animals are again waiting for a blow, perhaps only the appropriate word pinned to a Corruptor Vile. Human behavior now already have a high ranking official to feel a lot of power, felt himself most jumawa, felt that his throne was in top level, whatever employment he will do not need menyakan things again, as long as he likes, it must be him have and should he feels, because he said people like him do not need to ask what - what more if it wants to act something, How can he be afraid of what he has done, if gelimpahan money still surrounds his life, today what - what can be bought with money, good self-esteem or other.

All forms of whatever he ate, no one dared to forbid or command him, all the fear of his power, all kinds of whatever he was taking nothing could mencegal there they were just shaking with fear, fear of dismissal that will be received, it is hereby those who witnessed could only be silent, now we run on the lives of ordinary people who only know a handful of rice, which was also to be found between the distance the hours and days are far enough and only berlauk the beans, the corrupt laugh with the abundance of his property, which is increasingly accumulate wealth, but has properties that are less good and certainly a miser, everything wants something very large, Gardens, Mountains, Sea Kali Sawah blood even another party she could eat.

Maybe that comes to the minds of pejabatku, while they have the opportunity, while still in power and have a high office he could do as they please, no matter what he has done that which his actions are already making small people increasingly become miserable. On the other hand the little people who are poor, despite living in misery they are still able to think clearly to do anything that smells of corruption or steal other people's rights, the rich do have everything, just the result of stealing state funds that have no shame with stout them can be present every day even at any time in online media, a small impoverished, tiny scream still many who want to pray, they are afraid to commit adultery, but is big as conglomerates have many who are b * angsat, faith fragile morale are increasingly becoming bejad

Frustrated with all the monetary crisis, the rupiah had become intoxicated with the state of the dollar, the smaller the scream like tilapia fish that kekringan, there are having a lot of money in the bank, easily mempangun warehouse, a lot of unscrupulous rogue therein, happily and animatedly they race - the race to hoard goods.
Grocery, where groceries. , ! On where basic food, the staple food is becoming less clear direction way that might stray into a warehouse hoarding, the little guy is like an ant, that moment - a moment keinjak, so be patient, willing not to want to bite, the more important the closer we are to the divine, we have to remember when life was indeed playing, who in a day or two we can be on top, but the main thing we have to remember, if we have peaked, do not like him - he who loses reasonable minds

Lah, enough of it from me, if I was outspoken, so I'm sorry I never went to school up to higher levels of education, it is not because I do not go to school, but the school now that what - what have to use Paul's bung. Pake money bray. , , use the money instead to use the leaves, so the modern age the number duakan me many brain problems and knowledge, because to issue grades or achievement can be regulated by the flow of funds. It also wrote according to news spread, I was limited to forwarding.
If indeed if the issue is true, hmmm wonder now many people who have a college degree, but merely in name only, but his brain ...... haddeuuhhhh (this is a fact and reality is not just an issue loh) sorry. !!!

But despite it all, let them walk dijalannya own, sing importantly we adjust and fix ourselves first was bray, yet still loads of things - things that we must improve in ourselves as well, but this is just goyonan course, the mere - eyes remind any person concerned. and sorry ni ya do not get offended sanpean with my spiel, if sampean offense meant Ko dong if you were. , , , , !